Jumat, 20 November 2015

IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR


TUGAS MAKALAH
“IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR”
Diajukan Untuk Didiskusikan Dalam Mata Kuliah Tafsir Ayat Tarbawi






DISUSUN OLEH KELOMPOK IV:
ABDUL SAMAD
NETIK RISMAWATI
NURHIDAYAH
SULAIHA


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) YAYASAN NURUL ISLAM (YASNI)
 MUARA BUNGO
T.A 2015




KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim,
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas Ridhonya jualah sehingga penyusun makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan harapan penulis. Begitu pula salam dan taslim tak lupa penulis haturkan kepada Nabiullah Muhammad SAW.
Walau hanya berbekal kemampuan yang serba terbatas, namun tidak menjadikan melemahnya semangat jiwa untuk berusaha dan berkarya. Di dalam makalah ini, penulis telah banyak mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, yang semuanya itu telah merupakan bantuan yang sangat berharga bagi penulis. Untuk itu sepantasnyalah kiranya jika penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun makalah ini.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat, khususnya dalam peningkatan mutu pendidikan dan seluruh minat pembaca. Semoga segala bantuannya yang telah diberikn buat penulis mendapat imbalan yang setimpal dari Allah.


Muara Bungo, 21 November 2015 



Penyusun,




  

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar  Belakang................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................. 1
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1  Semua Sudah Tertulis dalam Kitab................................................................... 3
2.2  Usaha Manusia......................................................................................... ......... 7
2.3  Ajal dan Umur Manusia.................................................................................... 11
2.4  Rezki Manusia .................................................................................................. 11
2.5  Peta Konsep Penafsiran Ayat ........................................................................... 17
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan........................................................................................................ 18
3.2 Saran.................................................................................................................. 18
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 19


 
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Iman adalah aspek agama Islam yang paling mendasar, dan bisa disebut pondasi dari setiap agama. Bila sistem Iman rusak, maka runtuhlah bangunan agama secara keseluruhan. Dalam agama Islam Iman ini terbagi menjadi enam, yaitu: Iman kepada Allah, Iman kepada Rasulullah SAW, Iman kepada malaikat Allah, Iman kepada kitab-kitab Allah, Iman kepada hari akhir, dan Iman kepada qadha & qadar.          
 Hidup ini memang penuh dengan warna. Dan ingatlah  bahwa hakikat warna-warni kehidupan yang sedang kita jalani di dunia ini telah Allah tuliskan (tetapkan) dalam kitab “Lauhul Mahfudz” yang terjaga rahasianya dan tidak satupun makhluk Allah yang mengetahui isinya. Semua kejadian yang telah terjadi adalah kehendak dan kuasa Allah SWT. Begitu pula dengan bencana-bencana yang akhir-akhir ini sering menimpa bangsa kita. Gempa, tsunami, tanah longsor, banjir, angin ribut dan bencana-bancana lain yang telah melanda bangsa kita adalah atas kehendak, hak, dan kuasa Allah SWT.Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT, seorang mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi dalam kehidupannya, dan tidak berbangga diri dengan apa-apa yang telah diberikan Allah SWT.
Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan Ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh manusia. Dengan tidak adanya pengetahuan tentang ketetapan dan ketentuan Allah ini, maka kita harus berlomba-lomba menjadi hamba yang saleh-muslih, dan berusaha keras untuk menggapai cita-cita tertinggi yang diinginkan setiap muslim yaitu melihat Rabbul’alamin dan menjadi penghuni Surga.
Keimanan seorang mukmin yang benar harus mencakup enam rukun. Yang terakhir adalah beriman terhadap takdir Allah, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk. Salah memahami keimanan terhadap takdir dapat berakibat fatal, menyebabkan batalnya keimanan seseorang. Terdapat beberapa permasalahan yang harus dipahami oleh setiap muslim terkait masalah takdir ini.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penyusunan makalah ini adalah:
1.         Apa yang dimaksud dengan iman qada’ dan qadar?
2.         Bagaimana penjelasan tentang iman kepada qadha dan qadar dalam kitab
1.3  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud iman kepada qadha dan qadar.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Semua Sudah Tertulis dalam Kitab
1.      QS. Ali Imran Ayat 145
a.      Surat Ali Imran  Ayat 145 dan Terjemahannya
$tBur tb$Ÿ2 C§øÿuZÏ9 br& |NqßJs? žwÎ) ÈbøŒÎ*Î/ «!$# $Y7»tFÏ. Wx§_xsB 3 ÆtBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO $u÷R9$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB `tBur ÷ŠÌãƒ z>#uqrO ÍotÅzFy$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB 4 ÌôfuZyur tûï̍Å3»¤±9$# ÇÊÍÎÈ
145.  Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.[1]
b.      Asbab al-Nuzul Surat Ali Imran/3: 145
Asbabun Nuzul ayat ini berhubungan dengan Asbabun Nuzul ayat sebelumnya yaitu “Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul: ” Ibnu Munzir  meriwayatkan dari Umar, dia berkata“ketika peperangan Uhud, kami berpisah dengan Rasulullah. Lalu saya mendaki Gunung Uhud, disana saya mendengar orang-orang berkata. ‘Muhammad telah terbunuh’. Maka saya membatin, “ tak seorangpun mengatakan bahwa Muhammad telah terbunuh kecuali akan saya bunuh ”Ketika saya perhatikan ke bagian bawah Gunung Uhud, saya melihat Rasulullah dengan orang-orang sedang kembali. Lalu turun firman Allah, ‘Dan Muhammad hanyalah seorang rasul;...”.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ar-Rabi’, dia berkata “ketika kekalahan menimpa orang-orang muslim dan mereka berteriak-teriak memanggil Rasulullah, orang-orang berkata, ‘Rasulullah telah terbunuh.’ Maka sekelompok orang berkata, ‘seandainya dia seorang nabi, tentu tidak akan terbunuh.’ Dan sekelompok orang lainnya berkata, ‘berperanglah demi sesuatu untuknya Nabi kalian berperang, hingga Allah memenangkan kalian atau kalian menyusul beliau. Lalu Allah menurunkan firmannya ‘Dan Muhammad hanyalah seorang rasul.
c.       Tafsir al-Ayat
Surat Ali Imran/3: 145 Al-Biqa’i menghubungkan ayat ini dengan ayat sebelumya dengan berkata bahwa kematian pimpinan pendukung-pendukung suatu agama tidak wajar dijadikan sebab untuk mengelak dari pertempuran dan meninggalkan medannya, kecuali jika kematian itu terjadi tanpa izin Allah, pemilik agama itu.[2] Di sisi lain, meninggalkan medan perang tidak akan ada manfaatnya kecuali jika itu menjadi sebab keselamatan. Kalau tidak demikian, dalam arti kalau kematiannya tidak dapat terjadi kecuali atas izin-Nya, dan lari dari medan perang tidak menjadi sebab panjang atau pendeknya usia, maka apa yang dilakukan oleh sebagian peserta perang Uhud adalah sesuatu yang sangat tidak pada tempatnya. Inilah pesan yang dikandung dalam ayat ini, yakni sesuatu yang bernyawa makhluk apa pun ia, dan setinggi apa pun kedudukannya dan kemampuannya tidak akan mati dengan satu dan lain sebab melainkan dengan izin Allah, yang memerintahkan kepada malaikat maut untuk mencabut nyawanya, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya sehingga tidak akan bertambah usia itu dengan lari dari peperangan tidak juga berkurang bila bertahan dan melanjutkan perjuangan.
Firman-Nya: ( وَمَا كَانَ )  dari segi bahasa pada mulanya berarti tidak wajar. Ketika kata itu dikaitkan dengan kematian satu jiwa ( لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ ), maka terjemahannya secara harfiah adalah “Tidak wajar satu jiwa mati ..” redaksi ini menimbulkan pertanyaan, karena jika anda berkata: “Tidak wajar yang ini”, maka akan timbul pertanyaan, “Apa yang wajar?” dan ketika itu terkesan adanya pilihan. Nah, sekali lagi timbul pertanyaan: “Apakah ada yang wajar atau tidak wajar untuk menentukan datangnya kematian? Adakah pilihan bagi seseorang menyangkut kematian?” Tentu saja jawabannya: “Tidak ada!” Jika demikian, mengapa ayat ini berbunyi seperti itu? Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi memberi jawaban sebagai berikut: “Seandainya ada seseorang yang akan membunuh dirinya, maka dia tidak akan mati (walau usahanya telah maksimal) kecuali sudah izin Allah kepada malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Kalau yang mau membunuh diri saja tidak dapat mati kecuali seizin-Nya, maka lebih-lebih mereka yang memelihara dirinya. Hal tersebut demikian, karena ajal telah ditentukan Allah, dan dengan demikian, tidak wajar seseorang menghindar dari peperangan karena takut mati.”[3]
Allah menyatakan: "semua yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin-Nya, tepat pada waktunya sesuai dengan yang telah ditetapkan-Nya”. Artinya persoalan mati itu hanya di tangan Allah, bukan di tangan siapa-siapa atau di tangan musuh yang di takuti. Dalam hal ini keimanan terhadap qadha’ dan qadar sangatlah diperlukan, karena jika kita meyakini tentang qadha’ dan qadar tentu kita akan berserah diri kepada Allah tentang urusan yang sudah pasti urusan Allah yaitu salah satunya adalah tentang ajal. Ayat Ini merupakan teguran kepada orang-orang mukmin yang lari dari medan perang Uhud karena takut mati, dan juga merupakan petunjuk bagi setiap umat Islam yang sedang berjuang di jalan Allah.
d.      Tafsir Jalalain
(Setiap diri tidaklah akan mati kecuali dengan izin Allah) artinya daripada-Nya (sebagai ketentuan) mashdar artinya ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah (yang telah ditetapkan waktunya) hingga tidak dapat dimajukan atau diundurkan. Lalu kenapa kamu menderita kekalahan, padahal kekalahan itu tidak dapat menolak kematian dan ketabahan takkan dapat mengakhiri kehidupan. (Barang siapa yang menghendaki) dengan amalannya (pahala dunia) artinya balasannya (Kami berikan itu kepadanya) artinya bagiannya di dunia tetapi di akhirat ia tidak mendapat apa-apa. (Dan barang siapa menghendaki pahala akhirat Kami berikan pula kepadanya) artinya pahalanya (dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur).
2.      Surat An-Naba ayat 29 dan Terjemahannya
¨@ä.ur >äó_x« çm»oYøŠ|Áômr& $Y7»tGÅ2 ÇËÒÈ
29.  Dan segala sesuatu Telah kami catat dalam suatu kitab.[4]
“Padahal tiap-tiap sesuatunya telah Kami kumpulkan di dalam kitab.” (ayat 29). Ayat ini boleh diartikan dua: Pertama, tidaklah patut mereka mendustakan, kerana semuanya telah tertulis dengan jelas. Atau tidak patut mereka mendustakan, karena akal mereka yang murni atau yang dinamai fitrah tidak akan menolak kebenaran dari Allah itu. Hati nurani manusia tidak dapat menolak ayat-ayat Allah itu, karena dia telah terkumpul dalam kitab. Yaitu kitab-kitab suci yang dibawa Nabi-nabi, atau kitab pada alam terbuka ini, sebagaimana telah diuraikan dalam ayat-ayat 6 sampai ayat 16 di atas tadi.
Arti yang kedua ialah bahawa manusia tidak akan dapat mengelakkan diri daripada perhitungan Allah yang sangat teliti di akhirat kelak. Sebab segala sesuatu yang telah dikerjakan oleh manusia, buruknya dan baiknya, semua sudah tertulis di dalam kitab di sisi Tuhan. Ada malaikat-malaikat yang mulia, yang disebut kiraaman kaatibiin, yang selalu menuliskan segala sesuatu yang telah diamalkan oleh manusia, sehingga mereka tidak memungkirinya lagi.[5]
Segala sesuatu dalam kehidupan ini dihimpun di dalam sebuah Kitab tunggal. Segala sesuatu adalah Kitab, dan Kitab itu mengandung segala sesuatu. Segala sesuatu yang ada adalah saling berhubungan dan pada akhirnya berakhir pada satu tempat, tidak ada yang terpisah. Yang mengingkari kebenaran ini berarti telah melanggar dirinya sendiri, dan pelanggaran ini pun tertulis dalam Kitab tersebut. Segala sesuatu telah diperhitungkan dan tercakup dalam Kitab tentang kesejatian ini, Kitab tentang manifestasi, Kitab yang komprehensif tentang qadhâ wa qadar (takdir keputusan Tuhan). Alquran adalah manifestasi yang jelas dari Kitab tersebut.[6]
2.2  Usaha manusia
1.      An-Najm Ayat 39 dan Terjemahannya
br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy ÇÌÒÈ
39.  Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya,
Ayat ini sering dijadikan dalil bahwa pahala amal shaleh seseorang tidak dapat dikirimkan (dihadiahkan) kepada Muslim lainnya. Sayyidina ‘Abbas sepupu Nabi SAW yang mendapat do’a langsung dari Rasulullah SAW agar memperoleh kemampuan untuk menfsirkan Al-Qur’an menyatakan bahwa ayat 39 surat An-Najm tersebut telah di-mansukh oleh ayat 21 surat Thur: “Dan orang-orang yang beriman yang diikuti oleh keturunannya dengan keimanan, Kami hubungkan (kumpulkan) keturunannya itu dengan mereka (di dalam surga) dan Kami (dengan itu) tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal-amal mereka.”[7]
Dalam ayat Thur ayat 21 diatas, dinyatakan bahwa anak cucu yang mengikuti leluhurnya dengan keimanan akan diletakkan di tempat yang sama meskipun tidak memiliki bekal amal yang sama. Mereka mendapat kedudukan yang tinggi berkat amal orang tuanya (leuhurnya).
Ayat ini turun untuk menjelaskan bagaimana syari’at Nabi Musa dan Nabi Ibrahim. Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (QS. An-Najm: 36-39)
Dalam syari’at kedua Nabi tersebut (Nabi Musa dan Nabi Ibrahim), seseorang hanya akan mendapatkan pahala dari amalnya sendiri, sedangkan dalam syariat Nabi Muhammad SAW mereka umat Rasulullah akan mendapatkan pahala amal mereka dan juga pahala amal orang lain yang diniatkan dihadiahkan untuk mereka. Pendepat ini disampaikan oleh Imam ‘Ikrimah.
Ayat tersebut ditujukan untuk orang kafir. Di dunia ini mereka akan mendapatkan balasan amal baik mereka, sehingga di akhirat nanti sudah tidak memiliki kebaikan lagi. Sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika ‘Abdullah bin Ubai (pimpinan orang-orang munafik) meninggal dunia, Rasulullah SAW memberikan pakaian beliau untuk dijadikan kain kafannya.
Penjelasan ayat: Mengenai ayat diatas seorang shahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama, yang pernah didoakan secara khusus oleh Nabi agar pandai menakwilkan al Qur’an[8], yakni  Ibnu Abbas Berkata : “Ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah :   “Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (At-thur :21)
Syaikh Ibnu Taimiyyah t menjelaskan : “Dalam ayat tersebut Allah tidak bermaksud menyatakan bahwa seseorang tidak bisa mendapat manfaat dari orang lain, Namun maksudnya, seseorang hanya berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang lain adalah hak orang lain. Namun demikian ia bisa memiliki harta orang lain apabila dihadiahkan kepadanya. Begitu pula pahala, apabila dihadiahkan kepada si mayit maka ia berhak menerimanya seperti dalam solat jenazah dan doa di kubur. Dengan demikian si mayit berhak atas pahala yang dihadiahkan oleh kaum muslimin, baik kerabat maupun orang lain.”
1. Syekh Sulaiman bn Umar Al-'Ajilli menjelaskan:
 "Ibnu Abbas berkata bahwa hukum ayat tersebut telah dimansukh atau diganti dlm syari'at Nabi SAW. Hukumnya hanya berlaku dlm syari'at Nabi Ibrahim as. dan Nabi Musa AS. Kemudian untuk umat Nabi SAW kandungan QS. An-Najm ayat 39 tersebut dihapus dg firman Allah "wa alhaqnaa bihin dzurriyyatahum" Ayat ini menyatakan bahwa seorang anak dpt masuk surga karena amal baik ayahnya. Ikrimah mengatakan bahwa tdk sampainya pahala (yg dihadiahkan) hanya berlaku dlm syari'at Nabi Ibrahim as. dan Nabi Musa as. sedangkan untuk umat Nabi SAW. mereka dpt menerima pahala amal kebaikannya sendiri atau amal kebaikan orang laian
2. Syekh Hasanain Muhammad Makhluf (Mufti Mesir) menjelaskan:
 "Firman Allah SWT. "wa allaisa lil-insaani illaa maa sa'aa" perlu diberi batasan, yaitu orang yg melakukan perbuatan baik itu tdk menghadiahkan pahalanya kpd orang lain, maksud ayat bahwa amal seseorang tdk akan bermanfaat kecuali pekerjaan yg telah dilakukan di dunia bila tdk ada orang lain yg menghadiahkan amalnya kpd si mayat. Apabila ada orang yg mengirimkan ibadah kepadanya, maka pahala amal itu akan sampai kpd orang yg telah meninggal dunia tersebut"
2.      Al-Baqarah ayat 286 dan Terjemahannya
Ÿw ß#Ïk=s3ムª!$# $²¡øÿtR žwÎ) $ygyèóãr 4 $ygs9 $tB ôMt6|¡x. $pköŽn=tãur $tB ôMt6|¡tFø.$# 3 $oY­/u Ÿw !$tRõÏ{#xsè? bÎ) !$uZŠÅ¡®S ÷rr& $tRù'sÜ÷zr& 4 $oY­/u Ÿwur ö@ÏJóss? !$uZøŠn=tã #\ô¹Î) $yJx. ¼çmtFù=yJym n?tã šúïÏ%©!$# `ÏB $uZÎ=ö6s% 4 $uZ­/u Ÿwur $oYù=ÏdJysè? $tB Ÿw sps%$sÛ $oYs9 ¾ÏmÎ/ ( ß#ôã$#ur $¨Ytã öÏÿøî$#ur $oYs9 !$uZôJymö$#ur 4 |MRr& $uZ9s9öqtB $tRöÝÁR$$sù n?tã ÏQöqs)ø9$# šúï͍Ïÿ»x6ø9$# ÇËÑÏÈ
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
Sebab Turun Ayat
Imam Muslim mengeluarkan di dalam kitab Shahih-nya dan juga dikeluarkan oleh periwayat lainnya, dari Abu Hurairah, dia berkata, “Tatkala turun ayat, ‘Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu” (Q.s.,al-Baqarah:284) beratlah hal itu bagi para shahabat RA. Lalu mereka mendatangi Rasulullah SAW., dengan merangkak atau bergeser dengan bertumpu pada pantat (ngengsot) seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah dibebankan amalan-amalan yang mampu kami lakukan; shalat, puasa, jihad dan sedekah (zakat) dan sekarang telah diturunkan padamu ayat ini padahal kami tidak sanggup melakukannya.’
Lalu Rasulullah SAW. bersabda, ‘Apakah kalian ingin mengatakan sebagaimana yang dikatakan Ahli Kitab sebelum kamu; kami dengar namun kami durhaka? Tetapi katakanlah ‘kami dengar dan patuh, Wahai Rabb, kami mohon ampunan-Mu dan kepada-Mu tempat kembali.’ Tatkala mereka mengukuhkan hal itu dan lisan mereka telah kelu, turunlah setelah itu ayat ‘Aamanar Rasuul…sampai al-Mashiir. (al-Baqarah:285)’
2.3    Ajal dan umur manusia
1.      Al-Munaafiqun Ayat 11 dan Terjemahannya
`s9ur t½jzxsムª!$# $²¡øÿtR #sŒÎ) uä!%y` $ygè=y_r& 4 ª!$#ur 7ŽÎ7yz $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÇÊÊÈ
11.  Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila Telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha mengenal apa yang kamu kerjakan.[9]
2.4    Rezki Manusia
1.      Al-Ankabut Ayat 60 dan Terjemhannya
ûÉiïr(Ÿ2ur `ÏiB 7p­/!#yŠ žw ã@ÏJøtrB $ygs%øÍ ª!$# $ygè%ãötƒ öNä.$­ƒÎ)ur 4 uqèdur ßìÏJ¡¡9$# ãLìÎ=yèø9$# ÇÏÉÈ
60. Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan dia Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

Tafsir Mufradah
Makhluk tidak sanggup mengurus rezekinya sendiri karena bersifat lemah,[10] dan juga tidak menyimpannya untuk esok hari, seperti binatang ternak dan burung yang hanya mencari untuk sekali makan perharinya. Sofyan bin ‘Uyainah mengatakan: “Setiap makhluk tidak pernah menyimpan perbekalan makanan untuk hari esok melainkan manusia, tikus, dan semut”.[11]
Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid, Ibnu Abi Hatim, al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Asakir dengan sanad yang daif, yang bersumber dari ibnu ‘Umar bahwa Rasulullah saw berjalan bersama Ibnu ‘Umar hingga sampai di daerah perkebunan Madinah. Rasulullah SAW. memungut kurma yang jatuh dan memakannya sambil bersabda: “Mengapai hai Ibnu ‘Umar, engkau tidak mau makan kurma ini?” Ibnu ‘Umar menjawab: “Saya tidak menginginkannya.” Rasulullah SAW bersabda: “Aku sangat menginginkannya karena sudah empat hari aku tidak merasakan makanan dan tidak mendapatkannya. Padahal sekiranya aku berdoa kepada Rabb-ku, pasti Ia akan memberikan kepadaku sebanyak yang dimiliki kerajaan Kisra (Persia) dan Kaisar (Romawi).
Bagaimana pendapatmu hai Ibnu ‘Umar, tentang kaum yang menyimpan makanan untuk satu tahun tapi menyebabkan lemah keyakinannya?” Ibnu ‘Umar berkata: “Demi Allah, aku tidak menginginkannya.” Maka turunlah ayat ini (al-Ankabuut: 60) yang menegaskan bahwa Allah –lah yang memberi rizki kepada makhluk-Nya. Bersabdalah Rasulullah SAW.: “Allah tidak memerintahkan kepadamu untuk menimbun harta dan tidak pula untuk menuruti syahwat. Aku tidak akan menimbun harta dinar dan dirham, serta tidak menyimpan rizki untuk esok hari.”[12]
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW berkata kepada orang-orang yang beriman di Mekah, ketika orang-orang musyrik menyiksa mereka: "Keluarlah kamu sekalian dan berhijrahlah jangan bertetangga dengan orang yang zalim itu". Orang-orang mukmin menjawab: "Ya Rasulullah, di sana kami tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai harta yang dimiliki, tidak ada orang yang akan memberi makan dan tidak ada orang yang akan memberi minum". Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban kekhawatiran orang-orang mukmin itu.  Ayat ini turun untuk menenteramkan hati orang-orang yang beriman yang memperkenankan seruan Rasulullah saw untuk berhijrah, baik mereka yang telah berhijrah, maupun kaum Muslimin yang sedang bersiap-siap untuk berhijrah, seakan-akan Allah SWT mengatakan: "Hai orang-orang yang beriman, tantanglah musuh-musuh Allah itu. Janganlah sekali-kali kamu takut kepada kepapaan dan kemiskinan  karena betapa banyaknya binatang melata yang tidak sanggup mengumpulkan makanan setiap hari untuk keperluannya, tetapi Allah tetap memberinya rezeki. Maka kamu wahai orang-orang yang beriman, jauh lebih baik dari binatang dan lebih pandai mencari makan, kenapa kamu khawatir tidak akan mendapat makanan. Walaupun kamu berhijrah tanpa membawa sesuatu, tetapi Allah pasti memberimu rezeki. Allah Maha Mendengar segala macam doa, mengetahui segala rupa keadaan hamba-hamba Nya.
Ayat ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan mahkluk-Nya sedikitpun. Dia mengemukakan suatu perumpamaan yang sudah ditangkap pengertiannya oleh kaum Muslimin, seperti anak-anak binatang yang tidak sanggup mencari makanannya sendiri. Allah telah menjadikan induknya sayang kepadanya, sehingga mereka bersedia berusaha dan bersusah payah mencarikan makanan bagi anaknya itu. Kemudian menyuapkan ke dalam mulut anak-anaknya itu, seperti burung dan sebagainya. Ada pula binatang yang memberi makan anaknya telah tersedia pada ibunya sendiri seperti susu yang terdapat pada binatang-binatang menyusui. Semuanya itu merupakan ketentuan yang rapi dari Allah, sehingga dengan demikian setiap makhluk yang ada ini mempertahankan jenis dan kelangsungan hidupnya.
Demikian pula halnya manusia, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang kecil, ada yang besar, ada yang tinggal di tempat yang subur, dan ada pula yang tinggal di tempat yang tandus, semuanya diberi. rezeki oleh Allah, sesuai dengan keperluan mereka. Inilah yang dimaksud dengan ayat. Allah memberikan kepadanya dan kepadamu. Sebagaimana binatang yang tidak berakal diberi rezeki, begitu pula kamu diberi rezeki, hai para Muhajirin, sekalipun harta bendamu tertinggal di Mekah, dan mata pencaharianmu terputus.
Dari ayat-ayat di atas dipahami bahwa manusia itu tidak mengetahui dengan pasti apa-apa yang dilakukannya, ada yang diketahuinya dan ada pula yang tidak diketahuinya. Ia hanya mengetahui keperluan-keperluannya yang lahir saja, sedang keperluan-keperluannya yang batin dan keperluan-keperluannya yang lain banyak yang tidak diketahuinya, seperti keperluan akan udara yang harus ia hirup sehari-hari, keperluan air, keperluan batinnya dan sebagainya. Karena itu manusia meminta kepada Tuhan hanya keperluan-keperluan dirinya yang diketahuinya saja sedang keperluan-keperluan yang tidak diketahuinya tidak dimintanya. Bahkan orang-orang yang tidak mengetahui adanya Tuhan tidak pernah meminta keperluan-keperluannya kepada Tuhan yang menciptakannya, namun semua keperluan itu dicukupi dan dilengkapi Allah SWT kepada makhluk-Nya. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya [13]
2.      Al-Fajr Ayat 16 dan Terjemahannya
!$¨Br&ur #sŒÎ) $tB çm9n=tGö/$# uys)sù Ïmøn=tã ¼çms%øÍ ãAqà)uŠsù þÎn1u Ç`oY»ydr& ÇÊÏÈ
16.  Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku"[14] 
Ibtala (dari bala), berarti 'mencoba, memberikan ujian, menimpakan penderitaan'. Tujuan eksistensi manusia adalah untuk menjalani balwa (penderitaan, cobaan) agar beradab dan baik perilakunya sehingga ia berada dalam islam yang sebenarnya: ketundukkan, kepasrahan diri dan kemerdekaan yang sesungguhnya, sebagai hamba sejati dari kemerdekaannya dan dalam kemerdekaan dari penghambaan sejati. Kehidupan dunia ini tak lain hanyalah penderitaan (balwa). Jika seseorang mempunyai harta, maka sulitlah baginya untuk mempertahankan dan memeliharanya, dan, jika ia benar-benar dalam islam, maka ia akan membelanjakannya dengan bijak, karena tahu bahwa penggunaan yang salah akan dimintai pertanggungjawabannya. Jika seseorang tidak mempunyai harta, ia mengalami penderitaan karena ketiadaannya, kuatir akan tidak mampu menghidupi dirinya dan orang lain, dan seterusnya. Jadi setiap orang mengalami ketidakamanan, baik si kaya maupun si miskin.
Barang material memang penting. Manusia tidak bisa berfungsi tanpa adanya barang-barang yang pokok. Jika seseorang tidak diberi makan dan tidak ada atap untuk berlindung, maka akan sulit baginya untuk mempelajari makna batin dari eksistensi ini. Di lain pihak, ingatan seseorang tidak pemah berhenti pada satu tingkat kepuasan: sifatnya menginginkan lebih.
Ketika manusia diberikan kesenangan lahiriah, ia duduk-duduk saja sambil berkata, "Tuhanku sayang dan bermurah hati kepadaku." Di lain pihak, jika perbekalannya terbatas, maka hal itu menguji kesabaran, keuletan dan kesanggupannya untuk tidak terlampau cemas. Manusia mengira bahwa kemiskinan dimaksudkan hanya untuk merendahkannya. Ada beberapa kata bahasa Arab yang diterjemahkan sebagai 'kemurahan hati', meskipun masing-masing sedikit berbeda secara tajam. Karuma berarti 'memberi apa pun yang diminta'. Sakha berarti 'memberi apa yang dibutuhkan dan perlu', dan jada berarti 'memberi tanpa diminta'. Makna dari kata-kata ini merupakan sifat dari Sang Pencipta. Itsar adalah 'memberikan kepada orang lain apa yang dia sendiri butuhkan'. Ini adalah perbuatan yang sangat mulia dari sifat sepi ing pamrih. Hanya manusia yang melakukannya, karena Allah tidak membutuhkan apa pun.
“Dan adapun apabila Allah nya memberikan percobaan kepadanya, yaitu dijangkakan-Nya rezekinya.” (pangkal ayat 16). Dijangkakan, atau diagakkan, atau dibatasi; dapat hanya sekedar penahan jangan mati saja. Kehidupan miskin, dapat sekedar akan dimakan, dan itu pun payah; “Maka dia berkata: “Allahku telah menghinakan daku.” (ujung ayat 16).
Buruk dan baik semuanya adalah ujian. Kaya atau miskin pun ujian. Kalau Allah memberikan anugerah kekayaan berlimpah-ruah, tetapi alat penyambut kekayaan itu tidak ada, yaitu Iman; maka kekayaan yang melimpah-ruah itu akan membawa diri si kaya ke dalam kesengsaraan rohani. Harta yang banyak itu akan jadi alat baginya menimbun-nimbun dosa. Sebaliknya orang miskin, hidup hanya sekedar akan dimakan. Kalau alat penyambut kemiskinan itu tidak ada, yaitu Iman; maka kemiskinan itu pun akan membawanya menjadi kafir! Asal perutnya berisi, tidak peduli lagi mana yang halal dan mana yang haram.[15]
Oleh sebab itu dapatlah kita lihat di kota-kota besar sebagai Jakarta dan kota-kota lain; ada orang yang mengendarai mobilnya dengan sombong, dengan kaki tidak berjejak di tanah, tidak tahu dia ke mana rezeki yang banyak itu hendak dibelanjakannya.


[1] Departemen Agama RI,  Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009), h. 68
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), volume 2, h. 235
[3] Ibid, hal. 235
[4] yang dimaksud dengan kitab di sini adalah buku catatan amalan manusia.
[5] Diakses dari http://tafsir.cahcepu.com/annaba/an-naba-21-30/ tanggal 22 oktober 2015 jam 22:42 
[6] Diakses dari http://quran.al-shia.org/id/tafsir/juz30/078.htm tanggal 22 oktober 2015 jam 22:48
 [9] Baik atau buruk, lalu Dia membalasnya sesuai yang Dia ketahui dari kamu, yakni dari niat dan amalmu. Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.
[10] A. Mudjab Mahalli, Asbabun-Nuzul: Studi Pendalaman Al-Qur`an, (Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2002), hal.295
[11] Ibid, hal.295
[12] Diakses dari https://alquranmulia.wordpress.com/2013/01/20/asbabun-nuzul-surah-al-ankabuut/
[14] Maksudnya: ialah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. tetapi Sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar