TUGAS
MAKALAH
“IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR”
Diajukan
Untuk Didiskusikan Dalam Mata Kuliah Tafsir Ayat Tarbawi
DISUSUN OLEH
KELOMPOK IV:
ABDUL SAMAD
NETIK RISMAWATI
NURHIDAYAH
SULAIHA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) YAYASAN NURUL ISLAM
(YASNI)
MUARA BUNGO
T.A 2015
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim,
Puji syukur penulis
panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas Ridhonya jualah sehingga penyusun makalah
ini dapat diselesaikan sesuai dengan harapan penulis. Begitu pula salam dan
taslim tak lupa penulis haturkan kepada Nabiullah Muhammad SAW.
Walau hanya berbekal
kemampuan yang serba terbatas, namun tidak menjadikan melemahnya semangat jiwa
untuk berusaha dan berkarya. Di dalam makalah ini, penulis telah banyak
mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, yang semuanya itu telah
merupakan bantuan yang sangat berharga bagi penulis. Untuk itu sepantasnyalah
kiranya jika penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada pihak yang telah membantu penulis dalam menyusun makalah
ini.
Akhirnya, dengan
segala kerendahan hati penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat, khususnya dalam peningkatan mutu pendidikan dan seluruh minat pembaca. Semoga segala
bantuannya yang telah diberikn buat penulis mendapat imbalan yang setimpal dari
Allah.
Muara Bungo, 21 November 2015
Penyusun,
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR........................................................................................................ ii
DAFTAR
ISI...................................................................................................................... iii
BAB
1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................. 1
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................................ 1
BAB
II PEMBAHASAN
2.1 Semua
Sudah Tertulis dalam Kitab................................................................... 3
2.2 Usaha
Manusia......................................................................................... ......... 7
2.3 Ajal
dan Umur Manusia.................................................................................... 11
2.4 Rezki
Manusia .................................................................................................. 11
2.5 Peta
Konsep Penafsiran Ayat ........................................................................... 17
BAB
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan........................................................................................................ 18
3.2 Saran.................................................................................................................. 18
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................................... 19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Iman
adalah aspek agama Islam yang paling mendasar, dan bisa disebut pondasi dari
setiap agama. Bila sistem Iman rusak, maka runtuhlah bangunan agama secara
keseluruhan. Dalam agama Islam Iman ini terbagi menjadi enam, yaitu: Iman
kepada Allah, Iman kepada Rasulullah SAW, Iman kepada malaikat Allah, Iman
kepada kitab-kitab Allah, Iman kepada hari akhir, dan Iman kepada qadha &
qadar.
Hidup ini memang penuh dengan warna. Dan
ingatlah bahwa hakikat warna-warni
kehidupan yang sedang kita jalani di dunia ini telah Allah tuliskan (tetapkan)
dalam kitab “Lauhul Mahfudz” yang
terjaga rahasianya dan tidak satupun makhluk Allah yang mengetahui isinya.
Semua kejadian yang telah terjadi adalah kehendak dan kuasa Allah SWT. Begitu
pula dengan bencana-bencana yang akhir-akhir ini sering menimpa bangsa kita.
Gempa, tsunami, tanah longsor, banjir, angin ribut dan bencana-bancana lain
yang telah melanda bangsa kita adalah atas kehendak, hak, dan kuasa Allah
SWT.Dengan bekal keyakinan terhadap takdir yang telah ditentukan oleh Allah
SWT, seorang mukmin tidak pernah mengenal kata frustrasi dalam kehidupannya,
dan tidak berbangga diri dengan apa-apa yang telah diberikan Allah SWT.
Kematian, kelahiran, rizki, nasib, jodoh, bahagia, dan celaka telah
ditetapkan sesuai ketentuan-ketentuan Ilahiah yang tidak pernah diketahui oleh
manusia. Dengan tidak adanya pengetahuan tentang ketetapan dan ketentuan Allah
ini, maka kita harus berlomba-lomba menjadi hamba yang saleh-muslih, dan berusaha
keras untuk menggapai cita-cita tertinggi yang diinginkan setiap muslim yaitu
melihat Rabbul’alamin dan menjadi
penghuni Surga.
Keimanan seorang mukmin yang benar harus mencakup enam rukun. Yang
terakhir adalah beriman terhadap takdir Allah, baik takdir yang baik maupun
takdir yang buruk. Salah memahami keimanan terhadap takdir dapat berakibat
fatal, menyebabkan batalnya keimanan seseorang. Terdapat beberapa permasalahan
yang harus dipahami oleh setiap muslim terkait masalah takdir ini.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan
masalah dari penyusunan makalah ini adalah:
1.
Apa yang dimaksud dengan iman
qada’ dan qadar?
2.
Bagaimana
penjelasan tentang iman kepada qadha dan qadar dalam kitab
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud iman kepada
qadha dan qadar.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Semua
Sudah Tertulis dalam Kitab
1.
QS. Ali Imran Ayat 145
a.
Surat Ali Imran
Ayat 145 dan Terjemahannya
$tBur tb$2 C§øÿuZÏ9 br& |NqßJs? wÎ) ÈbøÎ*Î/ «!$# $Y7»tFÏ. Wx§_xsB 3 ÆtBur ÷Ìã z>#uqrO $u÷R9$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB `tBur ÷Ìã z>#uqrO ÍotÅzFy$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB 4 ÌôfuZyur tûïÌÅ3»¤±9$# ÇÊÍÎÈ
145. Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan
izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya. barang siapa
menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan
barang siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan (pula) kepadanya pahala
akhirat itu. dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.[1]
b. Asbab
al-Nuzul Surat Ali Imran/3: 145
Asbabun Nuzul
ayat ini berhubungan dengan Asbabun Nuzul ayat sebelumnya yaitu “Dan Muhammad
hanyalah seorang Rasul: ” Ibnu Munzir
meriwayatkan dari Umar, dia berkata“ketika peperangan Uhud, kami
berpisah dengan Rasulullah. Lalu saya mendaki Gunung Uhud, disana saya
mendengar orang-orang berkata. ‘Muhammad telah terbunuh’. Maka saya membatin, “
tak seorangpun mengatakan bahwa Muhammad telah terbunuh kecuali akan saya bunuh
”Ketika saya perhatikan ke bagian bawah Gunung Uhud, saya melihat Rasulullah
dengan orang-orang sedang kembali. Lalu turun firman Allah, ‘Dan Muhammad
hanyalah seorang rasul;...”.
Ibnu Abi
Hatim meriwayatkan dari Ar-Rabi’, dia berkata “ketika kekalahan menimpa
orang-orang muslim dan mereka berteriak-teriak memanggil Rasulullah,
orang-orang berkata, ‘Rasulullah telah terbunuh.’ Maka sekelompok orang
berkata, ‘seandainya dia seorang nabi, tentu tidak akan terbunuh.’ Dan
sekelompok orang lainnya berkata, ‘berperanglah demi sesuatu untuknya Nabi kalian
berperang, hingga Allah memenangkan kalian atau kalian menyusul beliau. Lalu
Allah menurunkan firmannya ‘Dan Muhammad hanyalah seorang rasul.
c. Tafsir
al-Ayat
Surat Ali
Imran/3: 145 Al-Biqa’i menghubungkan
ayat ini dengan ayat sebelumya dengan berkata bahwa kematian pimpinan
pendukung-pendukung suatu agama tidak wajar dijadikan sebab untuk mengelak dari
pertempuran dan meninggalkan medannya, kecuali jika kematian itu terjadi tanpa
izin Allah, pemilik agama itu.[2] Di
sisi lain, meninggalkan medan perang tidak akan ada manfaatnya kecuali jika itu
menjadi sebab keselamatan. Kalau tidak demikian, dalam arti kalau kematiannya
tidak dapat terjadi kecuali atas izin-Nya, dan lari dari medan perang tidak
menjadi sebab panjang atau pendeknya usia, maka apa yang dilakukan oleh
sebagian peserta perang Uhud adalah sesuatu yang sangat tidak pada tempatnya.
Inilah pesan yang dikandung dalam ayat ini, yakni sesuatu yang bernyawa makhluk
apa pun ia, dan setinggi apa pun kedudukannya dan kemampuannya tidak akan mati
dengan satu dan lain sebab melainkan dengan izin Allah, yang memerintahkan
kepada malaikat maut untuk mencabut nyawanya, sebagai ketetapan yang telah
ditentukan waktunya sehingga tidak akan bertambah usia itu dengan lari dari
peperangan tidak juga berkurang bila bertahan dan melanjutkan perjuangan.
Firman-Nya:
( وَمَا كَانَ ) dari segi bahasa pada
mulanya berarti tidak wajar. Ketika kata itu dikaitkan dengan kematian satu
jiwa ( لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ ), maka terjemahannya secara harfiah adalah “Tidak wajar satu jiwa mati ..” redaksi ini
menimbulkan pertanyaan, karena jika anda berkata: “Tidak wajar yang ini”, maka
akan timbul pertanyaan, “Apa yang wajar?” dan ketika itu terkesan adanya
pilihan. Nah, sekali lagi timbul pertanyaan: “Apakah ada yang wajar atau tidak
wajar untuk menentukan datangnya kematian? Adakah pilihan bagi seseorang
menyangkut kematian?” Tentu saja jawabannya: “Tidak ada!” Jika demikian,
mengapa ayat ini berbunyi seperti itu? Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi memberi
jawaban sebagai berikut: “Seandainya ada seseorang yang akan membunuh dirinya,
maka dia tidak akan mati (walau usahanya telah maksimal) kecuali sudah izin
Allah kepada malaikat maut untuk mencabut nyawanya. Kalau yang mau membunuh
diri saja tidak dapat mati kecuali seizin-Nya, maka lebih-lebih mereka yang
memelihara dirinya. Hal tersebut demikian, karena ajal telah ditentukan Allah,
dan dengan demikian, tidak wajar seseorang menghindar dari peperangan karena
takut mati.”[3]
Allah menyatakan:
"semua yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin-Nya, tepat pada
waktunya sesuai dengan yang telah ditetapkan-Nya”. Artinya persoalan mati itu
hanya di tangan Allah, bukan di tangan siapa-siapa atau di tangan musuh yang di
takuti. Dalam hal ini keimanan terhadap qadha’ dan qadar sangatlah diperlukan,
karena jika kita meyakini tentang qadha’ dan qadar tentu kita akan berserah
diri kepada Allah tentang urusan yang sudah pasti urusan Allah yaitu salah satunya
adalah tentang ajal. Ayat Ini merupakan teguran kepada orang-orang mukmin yang
lari dari medan perang Uhud karena takut mati, dan juga merupakan petunjuk bagi
setiap umat Islam yang sedang berjuang di jalan Allah.
d. Tafsir
Jalalain
(Setiap diri tidaklah akan mati kecuali dengan izin
Allah) artinya daripada-Nya (sebagai ketentuan) mashdar artinya ketentuan yang
telah ditetapkan oleh Allah (yang telah ditetapkan waktunya) hingga tidak dapat
dimajukan atau diundurkan. Lalu kenapa kamu menderita kekalahan, padahal
kekalahan itu tidak dapat menolak kematian dan ketabahan takkan dapat
mengakhiri kehidupan. (Barang siapa yang menghendaki) dengan amalannya (pahala
dunia) artinya balasannya (Kami berikan itu kepadanya) artinya bagiannya di
dunia tetapi di akhirat ia tidak mendapat apa-apa. (Dan barang siapa
menghendaki pahala akhirat Kami berikan pula kepadanya) artinya pahalanya (dan
Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur).
2.
Surat An-Naba ayat 29 dan Terjemahannya
¨@ä.ur >äó_x« çm»oYø|Áômr& $Y7»tGÅ2 ÇËÒÈ
“Padahal tiap-tiap sesuatunya telah Kami kumpulkan di
dalam kitab.” (ayat 29).
Ayat ini boleh diartikan dua: Pertama, tidaklah patut mereka mendustakan,
kerana semuanya telah tertulis dengan jelas. Atau tidak patut mereka
mendustakan, karena akal mereka yang murni atau yang dinamai fitrah tidak akan
menolak kebenaran dari Allah itu. Hati nurani manusia tidak dapat menolak
ayat-ayat Allah itu, karena dia telah terkumpul dalam kitab. Yaitu kitab-kitab
suci yang dibawa Nabi-nabi, atau kitab pada alam terbuka ini, sebagaimana telah
diuraikan dalam ayat-ayat 6 sampai ayat 16 di atas tadi.
Arti yang kedua ialah bahawa manusia tidak akan dapat
mengelakkan diri daripada perhitungan Allah yang sangat teliti di akhirat
kelak. Sebab segala sesuatu yang telah dikerjakan oleh manusia, buruknya dan
baiknya, semua sudah tertulis di dalam kitab di sisi Tuhan. Ada
malaikat-malaikat yang mulia, yang disebut kiraaman
kaatibiin, yang selalu menuliskan segala sesuatu yang telah diamalkan oleh
manusia, sehingga mereka tidak memungkirinya lagi.[5]
Segala sesuatu dalam kehidupan ini dihimpun di
dalam sebuah Kitab tunggal. Segala sesuatu adalah Kitab, dan Kitab itu
mengandung segala sesuatu. Segala sesuatu yang ada adalah saling berhubungan
dan pada akhirnya berakhir pada satu tempat, tidak ada yang terpisah. Yang
mengingkari kebenaran ini berarti telah melanggar dirinya sendiri, dan
pelanggaran ini pun tertulis dalam Kitab tersebut. Segala sesuatu telah
diperhitungkan dan tercakup dalam Kitab tentang kesejatian ini, Kitab tentang
manifestasi, Kitab yang komprehensif tentang qadhâ wa qadar (takdir keputusan
Tuhan). Alquran adalah manifestasi yang jelas dari Kitab tersebut.[6]
2.2 Usaha
manusia
1.
An-Najm Ayat 39 dan Terjemahannya
br&ur }§ø©9 Ç`»|¡SM~Ï9 wÎ) $tB 4Ótëy ÇÌÒÈ
39. Dan bahwasanya
seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah diusahakannya,
Ayat ini sering
dijadikan dalil bahwa pahala amal shaleh seseorang tidak dapat dikirimkan
(dihadiahkan) kepada Muslim lainnya. Sayyidina ‘Abbas sepupu Nabi SAW yang
mendapat do’a langsung dari Rasulullah SAW agar memperoleh kemampuan untuk menfsirkan
Al-Qur’an menyatakan bahwa ayat 39 surat An-Najm tersebut telah di-mansukh oleh
ayat 21 surat Thur: “Dan orang-orang yang
beriman yang diikuti oleh keturunannya dengan keimanan, Kami hubungkan
(kumpulkan) keturunannya itu dengan mereka (di dalam surga) dan Kami (dengan
itu) tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal-amal mereka.”[7]
Dalam ayat Thur
ayat 21 diatas, dinyatakan bahwa anak cucu yang mengikuti leluhurnya dengan
keimanan akan diletakkan di tempat yang sama meskipun tidak memiliki bekal amal
yang sama. Mereka mendapat kedudukan yang tinggi berkat amal orang tuanya
(leuhurnya).
Ayat ini turun
untuk menjelaskan bagaimana syari’at Nabi Musa dan Nabi Ibrahim. Ataukah belum
diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan
lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Yaitu) bahwasanya
seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, Dan bahwasanya seorang
manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (QS. An-Najm:
36-39)
Dalam syari’at
kedua Nabi tersebut (Nabi Musa dan Nabi Ibrahim), seseorang hanya akan
mendapatkan pahala dari amalnya sendiri, sedangkan dalam syariat Nabi Muhammad
SAW mereka umat Rasulullah akan mendapatkan pahala amal mereka dan juga pahala
amal orang lain yang diniatkan dihadiahkan untuk mereka. Pendepat ini
disampaikan oleh Imam ‘Ikrimah.
Ayat tersebut
ditujukan untuk orang kafir. Di dunia ini mereka akan mendapatkan balasan amal
baik mereka, sehingga di akhirat nanti sudah tidak memiliki kebaikan lagi.
Sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika ‘Abdullah bin Ubai (pimpinan orang-orang
munafik) meninggal dunia, Rasulullah SAW memberikan pakaian beliau untuk dijadikan
kain kafannya.
Penjelasan ayat:
Mengenai ayat diatas seorang shahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama, yang pernah
didoakan secara khusus oleh Nabi agar pandai menakwilkan al Qur’an[8],
yakni Ibnu Abbas Berkata : “Ayat
tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman
Allah : “Dan orang-orang yang beriman
dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak
cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal
mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”. (At-thur :21)
Syaikh Ibnu
Taimiyyah t menjelaskan : “Dalam ayat tersebut Allah tidak bermaksud menyatakan
bahwa seseorang tidak bisa mendapat manfaat dari orang lain, Namun maksudnya,
seseorang hanya berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang
lain adalah hak orang lain. Namun demikian ia bisa memiliki harta orang lain
apabila dihadiahkan kepadanya. Begitu pula pahala, apabila dihadiahkan kepada
si mayit maka ia berhak menerimanya seperti dalam solat jenazah dan doa di
kubur. Dengan demikian si mayit berhak atas pahala yang dihadiahkan oleh kaum
muslimin, baik kerabat maupun orang lain.”
1. Syekh Sulaiman bn Umar
Al-'Ajilli menjelaskan:
"Ibnu Abbas berkata bahwa hukum ayat
tersebut telah dimansukh atau diganti dlm syari'at Nabi SAW. Hukumnya hanya
berlaku dlm syari'at Nabi Ibrahim as. dan Nabi Musa AS. Kemudian untuk umat
Nabi SAW kandungan QS. An-Najm ayat 39 tersebut dihapus dg firman Allah "wa alhaqnaa bihin dzurriyyatahum"
Ayat ini menyatakan bahwa seorang anak dpt masuk surga karena amal baik
ayahnya. Ikrimah mengatakan bahwa tdk sampainya pahala (yg dihadiahkan) hanya
berlaku dlm syari'at Nabi Ibrahim as. dan Nabi Musa as. sedangkan untuk umat
Nabi SAW. mereka dpt menerima pahala amal kebaikannya sendiri atau amal
kebaikan orang laian
2. Syekh Hasanain Muhammad Makhluf
(Mufti Mesir) menjelaskan:
"Firman Allah SWT. "wa allaisa lil-insaani illaa maa sa'aa" perlu diberi
batasan, yaitu orang yg melakukan perbuatan baik itu tdk menghadiahkan
pahalanya kpd orang lain, maksud ayat bahwa amal seseorang tdk akan bermanfaat
kecuali pekerjaan yg telah dilakukan di dunia bila tdk ada orang lain yg
menghadiahkan amalnya kpd si mayat. Apabila ada orang yg mengirimkan ibadah
kepadanya, maka pahala amal itu akan sampai kpd orang yg telah meninggal dunia
tersebut"
2.
Al-Baqarah ayat 286 dan Terjemahannya
w ß#Ïk=s3ã ª!$# $²¡øÿtR wÎ) $ygyèóãr 4 $ygs9 $tB ôMt6|¡x. $pkön=tãur $tB ôMt6|¡tFø.$# 3 $oY/u w !$tRõÏ{#xsè? bÎ) !$uZÅ¡®S ÷rr& $tRù'sÜ÷zr& 4 $oY/u wur ö@ÏJóss? !$uZøn=tã #\ô¹Î) $yJx. ¼çmtFù=yJym n?tã úïÏ%©!$# `ÏB $uZÎ=ö6s% 4 $uZ/u wur $oYù=ÏdJysè? $tB w sps%$sÛ $oYs9 ¾ÏmÎ/ ( ß#ôã$#ur $¨Ytã öÏÿøî$#ur $oYs9 !$uZôJymö$#ur 4 |MRr& $uZ9s9öqtB $tRöÝÁR$$sù n?tã ÏQöqs)ø9$# úïÍÏÿ»x6ø9$# ÇËÑÏÈ
286. Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan)
yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami
lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami
beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak
sanggup kami memikulnya. beri ma'aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah
kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang
kafir."
Sebab Turun Ayat
Imam Muslim mengeluarkan di dalam kitab Shahih-nya dan
juga dikeluarkan oleh periwayat lainnya, dari Abu Hurairah, dia berkata,
“Tatkala turun ayat, ‘Dan jika kamu
melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya
Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu”
(Q.s.,al-Baqarah:284) beratlah hal itu bagi para shahabat RA. Lalu mereka
mendatangi Rasulullah SAW., dengan merangkak atau bergeser dengan bertumpu pada
pantat (ngengsot) seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami sudah dibebankan
amalan-amalan yang mampu kami lakukan; shalat, puasa, jihad dan sedekah (zakat)
dan sekarang telah diturunkan padamu ayat ini padahal kami tidak sanggup
melakukannya.’
Lalu Rasulullah SAW. bersabda, ‘Apakah kalian ingin
mengatakan sebagaimana yang dikatakan Ahli Kitab sebelum kamu; kami dengar
namun kami durhaka? Tetapi katakanlah ‘kami dengar dan patuh, Wahai Rabb, kami
mohon ampunan-Mu dan kepada-Mu tempat kembali.’ Tatkala mereka mengukuhkan hal
itu dan lisan mereka telah kelu, turunlah setelah itu ayat ‘Aamanar
Rasuul…sampai al-Mashiir. (al-Baqarah:285)’
2.3
Ajal dan umur manusia
1.
Al-Munaafiqun Ayat 11 dan Terjemahannya
`s9ur t½jzxsã ª!$# $²¡øÿtR #sÎ) uä!%y` $ygè=y_r& 4 ª!$#ur 7Î7yz $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÇÊÊÈ
11. Dan
Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila Telah
datang waktu kematiannya. dan Allah Maha mengenal apa yang kamu kerjakan.[9]
2.4
Rezki Manusia
1.
Al-Ankabut Ayat 60 dan Terjemhannya
ûÉiïr(2ur `ÏiB 7p/!#y w ã@ÏJøtrB $ygs%øÍ ª!$# $ygè%ãöt öNä.$Î)ur 4 uqèdur ßìÏJ¡¡9$# ãLìÎ=yèø9$# ÇÏÉÈ
60. Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat)
membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan
kepadamu dan dia Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Tafsir Mufradah
Makhluk tidak
sanggup mengurus rezekinya sendiri karena bersifat lemah,[10] dan
juga tidak menyimpannya untuk esok hari, seperti binatang ternak dan burung
yang hanya mencari untuk sekali makan perharinya. Sofyan bin ‘Uyainah
mengatakan: “Setiap makhluk tidak pernah menyimpan perbekalan makanan untuk
hari esok melainkan manusia, tikus, dan semut”.[11]
Diriwayatkan
oleh ‘Abd bin Humaid, Ibnu Abi Hatim, al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Asakir dengan sanad
yang daif, yang bersumber dari ibnu
‘Umar bahwa Rasulullah saw berjalan bersama Ibnu ‘Umar hingga sampai di daerah
perkebunan Madinah. Rasulullah SAW. memungut kurma yang jatuh dan memakannya
sambil bersabda: “Mengapai hai Ibnu ‘Umar, engkau tidak mau makan kurma ini?”
Ibnu ‘Umar menjawab: “Saya tidak menginginkannya.” Rasulullah SAW bersabda: “Aku
sangat menginginkannya karena sudah empat hari aku tidak merasakan makanan dan
tidak mendapatkannya. Padahal sekiranya aku berdoa kepada Rabb-ku, pasti Ia
akan memberikan kepadaku sebanyak yang dimiliki kerajaan Kisra (Persia) dan
Kaisar (Romawi).
Bagaimana
pendapatmu hai Ibnu ‘Umar, tentang kaum yang menyimpan makanan untuk satu tahun
tapi menyebabkan lemah keyakinannya?” Ibnu ‘Umar berkata: “Demi Allah, aku
tidak menginginkannya.” Maka turunlah ayat ini (al-Ankabuut: 60) yang
menegaskan bahwa Allah –lah yang memberi rizki kepada makhluk-Nya. Bersabdalah
Rasulullah SAW.: “Allah tidak memerintahkan kepadamu untuk menimbun harta dan
tidak pula untuk menuruti syahwat. Aku tidak akan menimbun harta dinar dan
dirham, serta tidak menyimpan rizki untuk esok hari.”[12]
Ibnu Abbas
meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW berkata kepada orang-orang yang beriman di
Mekah, ketika orang-orang musyrik menyiksa mereka: "Keluarlah kamu
sekalian dan berhijrahlah jangan bertetangga dengan orang yang zalim itu".
Orang-orang mukmin menjawab: "Ya Rasulullah, di sana kami tidak mempunyai
rumah, tidak mempunyai harta yang dimiliki, tidak ada orang yang akan memberi
makan dan tidak ada orang yang akan memberi minum". Maka turunlah ayat ini
sebagai jawaban kekhawatiran orang-orang mukmin itu. Ayat ini turun untuk menenteramkan hati
orang-orang yang beriman yang memperkenankan seruan Rasulullah saw untuk
berhijrah, baik mereka yang telah berhijrah, maupun kaum Muslimin yang sedang
bersiap-siap untuk berhijrah, seakan-akan Allah SWT mengatakan: "Hai
orang-orang yang beriman, tantanglah musuh-musuh Allah itu. Janganlah
sekali-kali kamu takut kepada kepapaan dan kemiskinan karena betapa banyaknya binatang melata yang
tidak sanggup mengumpulkan makanan setiap hari untuk keperluannya, tetapi Allah
tetap memberinya rezeki. Maka kamu wahai orang-orang yang beriman, jauh lebih
baik dari binatang dan lebih pandai mencari makan, kenapa kamu khawatir tidak
akan mendapat makanan. Walaupun kamu berhijrah tanpa membawa sesuatu, tetapi
Allah pasti memberimu rezeki. Allah Maha Mendengar segala macam doa, mengetahui
segala rupa keadaan hamba-hamba Nya.
Ayat ini
mengisyaratkan kepada kaum Muslimin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan
mahkluk-Nya sedikitpun. Dia mengemukakan suatu perumpamaan yang sudah ditangkap
pengertiannya oleh kaum Muslimin, seperti anak-anak binatang yang tidak sanggup
mencari makanannya sendiri. Allah telah menjadikan induknya sayang kepadanya,
sehingga mereka bersedia berusaha dan bersusah payah mencarikan makanan bagi
anaknya itu. Kemudian menyuapkan ke dalam mulut anak-anaknya itu, seperti
burung dan sebagainya. Ada pula binatang yang memberi makan anaknya telah tersedia
pada ibunya sendiri seperti susu yang terdapat pada binatang-binatang menyusui.
Semuanya itu merupakan ketentuan yang rapi dari Allah, sehingga dengan demikian
setiap makhluk yang ada ini mempertahankan jenis dan kelangsungan hidupnya.
Demikian pula
halnya manusia, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin,
ada yang kecil, ada yang besar, ada yang tinggal di tempat yang subur, dan ada
pula yang tinggal di tempat yang tandus, semuanya diberi. rezeki oleh Allah,
sesuai dengan keperluan mereka. Inilah yang dimaksud dengan ayat. Allah
memberikan kepadanya dan kepadamu. Sebagaimana binatang yang tidak berakal
diberi rezeki, begitu pula kamu diberi rezeki, hai para Muhajirin, sekalipun
harta bendamu tertinggal di Mekah, dan mata pencaharianmu terputus.
Dari ayat-ayat
di atas dipahami bahwa manusia itu tidak mengetahui dengan pasti apa-apa yang
dilakukannya, ada yang diketahuinya dan ada pula yang tidak diketahuinya. Ia
hanya mengetahui keperluan-keperluannya yang lahir saja, sedang keperluan-keperluannya
yang batin dan keperluan-keperluannya yang lain banyak yang tidak diketahuinya,
seperti keperluan akan udara yang harus ia hirup sehari-hari, keperluan air,
keperluan batinnya dan sebagainya. Karena itu manusia meminta kepada Tuhan hanya
keperluan-keperluan dirinya yang diketahuinya saja sedang keperluan-keperluan
yang tidak diketahuinya tidak dimintanya. Bahkan orang-orang yang tidak
mengetahui adanya Tuhan tidak pernah meminta keperluan-keperluannya kepada
Tuhan yang menciptakannya, namun semua keperluan itu dicukupi dan dilengkapi
Allah SWT kepada makhluk-Nya. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada
hamba-hamba-Nya [13]
2.
Al-Fajr Ayat 16 dan Terjemahannya
!$¨Br&ur #sÎ) $tB çm9n=tGö/$# uys)sù Ïmøn=tã ¼çms%øÍ ãAqà)usù þÎn1u Ç`oY»ydr& ÇÊÏÈ
16. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi
rizkinya Maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku"[14]
Ibtala (dari bala), berarti 'mencoba, memberikan
ujian, menimpakan penderitaan'. Tujuan eksistensi manusia adalah untuk
menjalani balwa (penderitaan, cobaan) agar beradab dan baik perilakunya
sehingga ia berada dalam islam yang sebenarnya: ketundukkan, kepasrahan diri
dan kemerdekaan yang sesungguhnya, sebagai hamba sejati dari kemerdekaannya dan
dalam kemerdekaan dari penghambaan sejati. Kehidupan dunia ini tak lain
hanyalah penderitaan (balwa). Jika seseorang mempunyai harta, maka sulitlah
baginya untuk mempertahankan dan memeliharanya, dan, jika ia benar-benar dalam
islam, maka ia akan membelanjakannya dengan bijak, karena tahu bahwa penggunaan
yang salah akan dimintai pertanggungjawabannya. Jika seseorang tidak mempunyai
harta, ia mengalami penderitaan karena ketiadaannya, kuatir akan tidak mampu
menghidupi dirinya dan orang lain, dan seterusnya. Jadi setiap orang mengalami
ketidakamanan, baik si kaya maupun si miskin.
Barang material memang penting. Manusia tidak
bisa berfungsi tanpa adanya barang-barang yang pokok. Jika seseorang tidak
diberi makan dan tidak ada atap untuk berlindung, maka akan sulit baginya untuk
mempelajari makna batin dari eksistensi ini. Di lain pihak, ingatan seseorang
tidak pemah berhenti pada satu tingkat kepuasan: sifatnya menginginkan lebih.
Ketika manusia diberikan kesenangan lahiriah,
ia duduk-duduk saja sambil berkata, "Tuhanku sayang dan bermurah hati
kepadaku." Di lain pihak, jika perbekalannya terbatas, maka hal itu
menguji kesabaran, keuletan dan kesanggupannya untuk tidak terlampau cemas.
Manusia mengira bahwa kemiskinan dimaksudkan hanya untuk merendahkannya. Ada
beberapa kata bahasa Arab yang diterjemahkan sebagai 'kemurahan hati', meskipun
masing-masing sedikit berbeda secara tajam. Karuma berarti 'memberi apa pun
yang diminta'. Sakha berarti 'memberi
apa yang dibutuhkan dan perlu', dan jada berarti 'memberi tanpa diminta'. Makna
dari kata-kata ini merupakan sifat dari Sang Pencipta. Itsar adalah 'memberikan kepada orang lain apa yang dia sendiri
butuhkan'. Ini adalah perbuatan yang sangat mulia dari sifat sepi ing pamrih.
Hanya manusia yang melakukannya, karena Allah tidak membutuhkan apa pun.
“Dan adapun
apabila Allah nya memberikan percobaan kepadanya, yaitu dijangkakan-Nya
rezekinya.” (pangkal ayat 16). Dijangkakan, atau diagakkan, atau dibatasi;
dapat hanya sekedar penahan jangan mati saja. Kehidupan miskin, dapat sekedar
akan dimakan, dan itu pun payah; “Maka dia berkata: “Allahku telah menghinakan
daku.” (ujung ayat 16).
Buruk dan baik
semuanya adalah ujian. Kaya atau miskin pun ujian. Kalau Allah memberikan
anugerah kekayaan berlimpah-ruah, tetapi alat penyambut kekayaan itu tidak ada,
yaitu Iman; maka kekayaan yang melimpah-ruah itu akan membawa diri si kaya ke
dalam kesengsaraan rohani. Harta yang banyak itu akan jadi alat baginya
menimbun-nimbun dosa. Sebaliknya orang miskin, hidup hanya sekedar akan
dimakan. Kalau alat penyambut kemiskinan itu tidak ada, yaitu Iman; maka
kemiskinan itu pun akan membawanya menjadi kafir! Asal perutnya berisi, tidak
peduli lagi mana yang halal dan mana yang haram.[15]
Oleh sebab itu
dapatlah kita lihat di kota-kota besar sebagai Jakarta dan kota-kota lain; ada
orang yang mengendarai mobilnya dengan sombong, dengan kaki tidak berjejak di
tanah, tidak tahu dia ke mana rezeki yang banyak itu hendak dibelanjakannya.
[1] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta:
PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009), h. 68
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir
al-Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), volume 2, h. 235
[10] A. Mudjab Mahalli, Asbabun-Nuzul: Studi Pendalaman Al-Qur`an, (Jakarta
: RajaGrafindo Persada, 2002), hal.295
[14] Maksudnya:
ialah Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah
suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada
ayat 15 dan 16. tetapi Sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan
bagi hamba-hamba-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar